Atilah Soeryadjaya

Atilah Soeryadjaya – Writer/Director/Producer/Costume Design

Kesenian & Budaya Jawa berperan penting dalam kehidupan Atilah yang merupakan keturunan langsung dari Mangkunegaran. Beliau yang di besarkan didalam Istana Mangkunegaran, dididik untuk mencintai, menghormati dan melestarikan Budaya Kuno Jawa . Beliau mempelajari, menguasai dan menari Tarian Jawa Klasik di usia yang sangat muda. Atilah berlatih sebagai penari kontemporer dan vokalis di Jakarta, berlatih bela diri di Nepal, Desain Interior di London, mempelajari tarian tradisional Hawaii langsung dari asalnya, mendalami meditasi dari Tibet serta berlatih tekhnik pernapasan di India.

Atilah juga sangat dikenal di dunia Wayang Orang, suatu teater tradisional atas kontribusinya mempromosikan genre tersebut di Gedung Kesenian Jakarta. Ambisi Beliau selanjutnya adalah ingin mengembalikan citra kampung halamannya Kota Solo sebagai pusat Kesenian dan Budaya di Jawa, dengan mewujudkan tarian Jawa sebagai daya tarik utamanya.

Jay Subyakto

Jay Subyakto – Artistic Director

Jay Subyakto lahir di Ankara, Turki . Belajar fotografi secara autodidak, profesi ini telah membawanya ke Asia, Afrika, Australia, Eropa dan Amerika. Karya fotografinya telah dimuat di Harpers Bazaar Indonesia, Esquire Indonesia, Harian Kompas, Majalah Tempo, Eigenhuis Belanda dan di buku The Rolling Stone, A Life on the Road, Virgin Books 1998, Inggris. Menyelesaikan pendidikan arsitektur di Universitas Indonesia 1987. Bekerja di RCTI dari1989 hingga 2004. Telah menyutradarai puluhan video musik, konser musik, program siaran langsung televisi, peragaan busana dan iklan televisi sejak 1989. Kemudian bekerja sebagai konsultan kreatif Astro TV sejak 2005 hingga 2008 dan konsultan artistik dan fotografi di majalah Harper’s Bazaar Indonesia sejak tahun 2000 sampai 2009.

Fajar Satriadi

Fajar Satriadi. S.Sn, M.Sn. – Assistant Director

Dengan karir professional nya sebagai penari yang di mulai pada usia 20 tahun, Fajar mengabdikan dirinya untuk seni dan kerap mencari ide-ide baru untuk menyempurnakan hasil karya nya, termasuk dalam kepercayaan dan juga cara pandang terhadap kebudayaan.

Fajar mengerahkan segala kemampuannya dalam menari, memberikan arahan dan koreografi, ke atas panggung berbagai pertunjukan yang ia perankan. Ia juga selalu siap untuk berbagi pengetahuan dengan mengajar kelas – kelas baik di Indonesia maupun luar negri. Untuk memperdalam latihannya dalam Tari Jawa Klasik, ia juga berlatih bela diri dan latihan meditasi dan pernapasan Bali. Menurutnya, kedua latihan ini sangat membantu dalam mengembangkan kemampuannya sebagai penari dan lakon panggung.

Blacius Subono

Blacius Subono. S.Kar. M.Sn. – Musical Director/Musician

Blacius Subono adalah anak ke tujuh dari Sembilan bersaudara yang semua nya berprofesi sebagai seniman. Beliau mulai mempelajari musik pada usia 6 tahun dan sering pula menemani sang Ayah, Dalang Yusuf Kiyatdiharjo selama pertunjukan. Pada usia 12 tahun, beliau sudah menjadi Dalang di presentasi Wayang Kulit.

Pada Tahun 1995, Beliau meraih penghargaan Satya Lencana Budaya, yang merupakan bentuk penghargaan kontribusinya dalam musik. Tak terhitung penghargaan-penghargaan lain yang beliau terima. Beliau merupakan musisi Istana Mangkunegaran dan telah menulis 18 karya Kesenian & Budaya Jawa, dari musik, teater, dan Wayang Kulit.

“Yang terlibat dalam proses ini adalah berbagai ragam, tentunya sangat menarik sekali. Sehingga terjalin kesatuan dan pemahaman di dalam proses itu sendiri sehingga masing-masing dapat berperan sebagai tugas nya sehingga dapat bersatu padu menjadi satu kesatuan yang utuh dan menurut saya itu suatu hal yang luar biasa.”

Daryono Darmorejono

Daryono. S.Kar. M.Hum. – Choreographer/Supporting Dancer

Daryono Darmorejono telah menari sejak usia 10 tahun dibimbing langsung Sang Ayah yang juga penari. Beliau meraih gelar Sarjana Tarian Nusantara dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dan mengajar sejak tahun 1983 dan menghasilkan karya-karya tari yang luar biasa.

“Matah Ati merupakan sebuah karya seni fenomenal yang sangat berkesan dengan bentuk panggung yang unik dan design kostum yang sangat indah berdasarkan baru berasal dari tradisi tapi di re-design dengan sangat indah. Hal hal yang seperti ini harus nya bisa terus berlanjut, supaya kami para teman teman bisa terus berkarya untuk melengkapi alternatif-alternatif nilai bagi masyarakat luas.”

Nuryanto

Nuryanto. S.Kar. M.Sn. – Choreographer/Supporting Dancer

Nuryanto lahir dari sebuah keluarga yang aktif memainkan Wayang Orang atau Teater Rakyat. Mulai menari dari usia 5 tahun, dan hingga sekarang berdedikasi didalam Kesenian. Nuryanto yang pada tahun 1988 lulus dari SMU jurusan kesenian lalu melanjutkan tugasnya sebagai pengajar, hingga sekarang berdedikasi di dalam kesenian, sebagai guru tari, penari dan koreografer.

“Karya Matah Ati sangat membanggakan, dilihat dengan banyak perkembangan yang sudah kita capai bersama para teman penari, di tambah dengan artistik yang di gabungkan dari hasil karya Mas Jay, muncul sebuah aura yang sangat luar biasa. Dan dari sini terwujudlah rangkaian-rangkaian gerak tari yang sangat luar biasa. Dimana ini juga di dukung juga dari para teman teman penari yang mau bekerja keras dan mendukung secara tulus akan karya Matah Ati.”

Eko Supendi

Eko Supendi. S.Kar. M.Sn. – Choreographer/Supporting Dancer

Eko Suspendi mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI), mengajar Tarian Klasik Jawa, koreografi dan tarian Kontemporer. Karya Beliau sudah lebih dari 20 tarian.

“Matah Ati adalah sebuah karya yang sangat luar biasa, dengan proses yang sangat panjang melalui riset dalam membangun cerita ini. dan juga proses pencarian per stage sangat panjang, sehingga pada terminal terakhir pemantasan memberikan hasil yang sangat memuaskan, Dan perjuangan yang cukup lama 2 tahun tidak lah sia-sia. Bisa dilihat pada saat pementasan di Singapore, semua pekerja, pelaku tari, dan produksi semua adalah 100% Indonesia.”